Selasa, 21 Mei 2019

PENTINGNYA KEGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN

PENTINGNYA KEGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN


Oleh :
Yenita Sihaloho7173142035)
Sri Wulandari (7173342050)
Yan Danie Siahaan (7173142034)
Peretdi Lumbansiantar (7173342039)


Dosen Pengampu : RINI HERLIANI, M.Si, Ak.CA

Prodi Pendidikan Akuntansi
Fakultas Ekonomi 
Universitas Negeri Medan

Abstrak
Proses pembelajaran pada dasarnya menuntut kemampuan guru dalam mengendalikan kegiatan belajar siswa. Meski tidak setiap kegiatan belajar siswa bergantung kepada kehadiran guru, namun terdapat hubungan sebab akibat antara guru mengajar dan murid belajar. Oleh karena itu, salah satu tanggung jawab guru dalam proses pembelajaran adalah merancang dan melaksanakan proses pembelajaran sedemikian rupa sehingga para peserta didik dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Menciptakan pembelajaran yang efektif dengan keterlibatan siswa agar terjadi optimalisasi belajar dan cara menumbuhkan keterampilan dasar dan keterampilan komplek pada siswa, bukan sesuatu yang mudah, Oleh karena itu, diperlukan media pembelajaran sebagai bagian dari sumber belajar. Media pembelajaran bermanfaat untuk melengkapi, memelihara dan bahkan meningkatkan kualitas dan proses pembelajaran yang sedang berlangsung, penggunaan media dalam pembelajaran akan meningkatkan hasil belajar, meningkatkan aktivitas siswa, meningkatkan motivasi belajar siswa. Ketepatan penggunaan media pembelajaran tidak terlepas dari pemahaman kita terhadap ragam dan karakteristik media tersebut. Setiap jenis media pembelajaran memiliki kekhasan tersendiri. Hal ini perlu dijadikan bagian kemampuan dan keterampilan guru sesuai dengan kompetensi yang harus dimiliki menuju guru yang profesional.

Kata Kunci: Media, Media Pembelajaran

PENDAHULUAN
Pada hakikatnya pembelajaran merupakan suatu proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran atau media tertentu ke penerima pesan. Pesan, sumber pesan, saluran atau media, dan penerima pesan adalah komponen-komponen proses komunikasi. 

Pesan yang akan dikomunikasikan adalah isi ajaran ataupun didikan yang terdapat dalam kurikulum, sumber pesannya adalah guru, siswa, orang lain, penulis buku, salurannya adalah media pembelajaran, dan penerima pesan adalah pebelajar.

Pembelajaran mengandung dua kegiatan dan melibatkan dua pihak, kegiatan yang dimaksud yaitu belajar dan membelajarkan. Belajar adalah proses perubahan perilaku sebagai akibat dari interkasi dengan lingkungan untuk mencapai tujuan. Siswa adalah pihak yang menjadi fokus sebagai pelaku belajar, sedangkan guru adalah pihak yang menjadi fokus untuk menciptakan situasi hingga terjadinya proses belajar pada diri siswa. Proses pembelajaran pada dasarnya menuntut kemampuan guru dalam mengendalikan kegiatan belajar siswa. Meski tidak setiap kegiatan belajar siswa bergantung kepada kehadiran guru, namun terdapat hubungan sebab akibat antara guru mengajar dan murid belajar. Oleh karena itu, salah satu tanggung jawab guru dalam proses pembelajaran adalah merancang dan melaksanakan proses pembelajaran yang efektif sehingga para peserta didik dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Menciptakan pembelajaran yang efektif dan inovatif dengan keterlibatan siswa agar terjadi optimalisasi belajar dan cara menumbuhkan keterampilan dasar serta keterampilan komplek pada siswa bukanlah sesuatu yang mudah. Hal ini memerlukan aspek lain yang bukan hanya kemampuan verbal melainkan pelibatan berbagai sumber belajar (learning resources) yang digunakan siswa dengan kehadiran dan penggunaan secara tepat. Oleh karena itu, diperlukan media pembelajaran sebagai bagian dari sumber belajar. 

Media pembelajaran bermanfaat untuk melengkapi, memelihara dan bahkan meningkatkan kualitas dan proses pembelajaran yang sedang berlangsung, penggunaan media dalam pembelajaran akan meningkatkan hasil belajar, meningkatkan aktivitas siswa, meningkatkan motivasi belajar siswa. Ketepatan penggunaan media pembelajaran tidak terlepas dari pemahaman kita terhadap ragam dan karakteristik media tersebut. Setiap jenis media pembelajaran memiliki kekhasan tersendiri. Hal ini perlu dijadikan bagian kemampuan dan keterampilan guru sesuai dengan kompetensi yang harus dimiliki menuju guru yang profesional.

Guru profesional dituntut mampu memilih dan menggunakan berbagai jenis media pembelajaran. Proses pembelajaran bergantung padaperencanaan pembelajaran yang dibuat oleh guru, penerapan rencana pembelajaran dikelas, dan evaluasi yang akan dilakukan guru setelah pembelajaran selesai. Dengan menggunakan media belajar yang beragam didalam kelas akan terlihat lebih hidup daripada kelas dengan guru yang tidak memakai media apapun, demikian juga Guru. Guru kreatif dan inovatif akan selalu didamba kehadirannya oleh siswa-siswi, karena selalu hadir dengan suasana kelas yang baru, penuh inovasi, dan kreativitas.

KAJIAN PUSTAKA
Kata media merupakan bentuk jamak dari kata medium. Medium dapat didefinisikan sebagai perantara atau pengantar terjadinyakomunikasi dari pengirim menuju penerima (Heinich et.al.,2002; Ibrahim, 1997; Ibrahimet.al., 2001). Media merupakan salah satu komponen komunikasi, yaitu sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan (Criticos, 1996).

Lebih jauh Briggs menyatakan media adalah “alat untuk memberi perangsang bagi siswa supaya terjadi proses belajar. Sedangkan mengenai efektifitas media, Brown (1970) menggaris bawahi bahwa media yang digunakan guru atau siswa dengan baik dapat mempengaruhi efektifitas proses belajar dan mengajar.Kata pembelajaran secara harifah diartikan sebagai suatu kondisi yang diciptakan untuk membuat seseorang melakukan suatu kegiatan belajar.

Berdasarkan definisi diatas, dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran merupakan proses komunikasi. Proses pembelajaran mengandung lima komponen komunikasi, guru (komunikator), bahan pembelajaran, media pembelajaran, siswa (komunikan), dan tujuan pembelajaran. Dengan demikian, media pembelajaran memberikan penekanan pada posisi media sebagai wahana penyalur pesan atau informasi belajar untuk mengkondisikan seseorang untuk belajar. Dengan kata lain, pada saat kegiatan belajar berlangsung bahan belajar (learning matterial) yang diterima siswa diperoleh melalui media. Hal ini sesuai dengan pendapat Lesle J. Briggs (1979) yang menyatakan bahwa media pembelajaran sebagai “the physical means of conveying instructional content..book, films, videotapes, etc. 

Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sementara itu, Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti: buku, film, video dan sebagainya. Sedangkan, National Education Associaton (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasidalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras.

Media mediated instruction menempati posisi cukup strategis dalam rangka mewujudkan ivent belajar secara optimal. Ivent belajar yang optimal merupakan salah satu indikator untuk mewujudkan hasil belajar peserta didik yang optimal. Hasil belajar yang optimal juga merupakan salahsatu cerminan hasil pendidikan yang berkualitas. Pendidikan yang berkualitas memerlukan sumber daya guru yang mampu dan siap berperan secaraprofesional dalam lingkungan sekolah dan masyarakat (Heinich et.al., 2002; Ibrahim,1997; Ibrahim et.al., 2001).

Dalam era perkembangan Iptek yang begitu pesat dewasa ini, profesionalisme guru tidak cukup hanya dengan kemampuan membelajarkan siswa, tetapi juga harus mampu mengelola informasi dan lingkungan untuk memfasilitasi kegiatan belajar siswa (Ibrahim, et.al., 2001). Konsep lingkungan meliputi tempat belajar, metode, media, sistem penilaian, serta sarana dan prasarana yang diperlukan untukmengemas pembelajaran dan mengatur bimbingan belajar sehingga memudahkan siswa belajar. Dampak perkembangan Iptek terhadap proses pembelajaran adalah diperkayanya sumber dan media pembelajaran, seperti buku teks, modul, overhead transparansi, film, video, televisi, slide, hypertext, web, dan sebagainya. 

PEMBAHASAN
A. Media Pembelajaran
Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Aplikasi media pembelajaran berpijak pada kaidah ilmu komunikasi, yang antara lain dikatakan Lasswell (1982) “who says what in which channels to whom in what effect” Secara rinci dapat diuraikan sebagai berikut : 
  1. Who, siapa yang menyatakan? (Guru, widyaiswara, instruktur, fasilitator dan semua yang berfungsi sebagai pengirim pesan)
  2. What, pesan atau ide/gagasan apa yang disampaikan? (dalam kegiatan pembelajaran ini berarti bahan ajar atau materi yang akan disampaikan). 
  3. Which Channels, dengan saluran apa, media saluran apa, media atau sarana apa, pesan itu ingin disampaikan? 
  4. To Whom, kepada siapa? (sasaran, siswa, peserta didik)
  5. What effect, dengan hasil atau dampak apa? 
Oleh karenanya media pembelajaran dapat menghasilkan proses pembelajaran yang efektif yang dimana menghasilkan proseskomunikasi yang berlangsung dalam suatu sistem, maka media pembelajaran menempatiposisi yang cukup penting sebagai salah satu komponen sistem pembelajaran. Tanpa media, komunikasi tidak akan terjadi dan proses pembelajaran sebagai proses komunikasi juga tidak akan bisa berlangsung secara optimal.Adapun Hambatan-hambatan komunikasi dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut:
  1. Verbalisme, artrinya siswa dapat menyebutkan kata tetapi tidakmengetahui artinya. Hal ini terjadi karena biasanya guru mengajar hanya dengan penjelasan lisan (ceramah), siswa cenderung hanya menirukan apa yang dikatakan guru.
  2. Salah tafsir, artinya dengan istilah atau kata yang sama diartikan berbeda olehsiswa. Hal ini terjadi karena biasanya guru hanya menjelaskan secara lisan dengan tanpa menggunakan media pembelajaran yang lain, misalnya gambar, bagan, model, dan sebagainya.
  3. Perhatian tidak berpusat, hal ini dapat terjadi karena beberapa hal antara lain, gangguan fisik, ada hal lain yang lebih menarik mempengaruhi perhatian siswa, siswa melamun, cara mengajar guru membosankan, cara menyajikan bahanpelajaran tanpa variasi, kurang adanya pengawasan dan bimbingan guru.
  4. Tidak terjadinya pemahaman, artinya kurang memiliki kebermaknaan logis dan psikologis. Apa yang diamati atau dilihat, dialami secara terpisah. Tidak terjadi proses berpikir yang logis mulai dari kesadaran hingga timbulnya konsep.
Secara umum media mempunyai kegunaan sebagai berikut:
  1. Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis.
  2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu tenaga dan daya indra.
  3. Menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara murid dengan sumber belajar.
  4. Memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, auditori & kinestetiknya.
  5. Memberi rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman & menimbulkan persepsi yang sama.

B. Fungsi Media Pembelajaran
Media Pembelajaran dalam proses pembelajaran memiliki fungsi sebagai pembawa informasi dari sumber (guru) menuju penerima (siswa). Sedangkan metode adalah prosedur untuk membantu siswa dalam menerima dan mengolah informasi guna mencapai tujuan pembelajaran.

Dalam kegiatan interaksi antara siswa dengan lingkungan, fungsi media dapatdiketahui berdasarkan adanya kelebihan media dan hambatan yang mungkin timbuldalam proses pembelajaran. Tiga kelebihan kemampuan media (Gerlach & Ely dalamIbrahim, et.al., 2001) adalah sebagai berikut:
  1. Kemapuan fiksatif Media dapat menangkap, menyimpan, dan menampilkan kembali suatu obyek atau kejadian. Dengan kemampuan ini,obyek atau kejadian dapat digambar, dipotret, direkam, difilmkan, kemudian dapat disimpan dan pada saat diperlukan dapat ditunjukkan dan diamati kembali seperti kejadian aslinya.
  2. Kemampuan manipulativeMedia dapat menampilkan kembali obyek atau kejadian dengan berbagai macam perubahan (manipulasi) sesuai keperluan, misalnya diubah ukurannya, kecepatannya, warnanya, serta dapat pula diulang-ulang penyajiannya.
  3. Kemampuan distributiveMedia mampu menjangkau audien yang besar jumlahnya dalam satu kali penyajian secara serempak, misalnya siaran TV atau Radio.
Berdasarkan fungsi media diatas, maka penggunaan media kedalam proses belajar mengajar memiliki manfaat sebagai berikut (kemp, 1975):
  1. Pengajaran menjadi lebih produktif, karena dengan ini, maka bahan belajar sesuai dengan tujuan pengajaran, dan merangsang siswa untuk aktif serta menggunakan waktu dengan sebaik￾baiknya.
  2. Pengajaran menjadi bersifat individual karena keberlangsungan pembelajaran meskipun dalam konteks klasikal akan tetapi pada dasarnya siswa belajar secara individual dan Secara rinci.
C. Klasifikasi Media Pembelajaran
a. Klasifikasi Media Berdasarkan 
Persepsi Indera Suleiman (1988) secara lebih rinci 
mengklasifikasikan media pembelajaran berdasarkan persepsi indera sebagai berikut:
  1. Media audio, yaitu media yang menghasilkan bunyi atau suara. Media ini dapat menyalurkan pesan melalui bunyi atau suara. Contoh media jenis ini adalah radio dan audio cassette tape recorder.
  2. Media visual, yakni media yang menghasilkan bentuk atau rupa, yang dikenal sebagai media peraga. Contoh media visual adalah gambar alat transfortasi, insektarium, tiruan rangka manusia, dan lain-lain.Media visual dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
  • visual dua dimensi meliputi media dua dimensi pada bidang yang tidaktransparan (contoh: cetakan gambar pahlawan, poster, foto buah-buahan, dan lain sebagainya)h dan media dua dimensi pada bidang yang transparan (contoh: overhead transparency).
  • Media visual tiga dimensi contonya patung, boneka,diorama, dan lain-lain.
3. Media audio visual, yaitu media yang dapat menghasilkan rupa dan suara dalam satu unit media. Contoh jenis media ini adalah video, film bersuara, dan televisi.

b. Klasifikasi Media Berdasarkan 
Penggunaannya
Klasifikasi media berdasarkan penggunaannya dapat dilihat dari sasaran penggunanya dan cara penggunaannya. Berikut ini dipaparkan klasifikasi media berdasarkan penggunaannya dilihat dari kedua sudut pandang yakni:

a. Dilihat dari Sasaran Penggunanya
Berdasarkan sasaran yang menggunakannya, media dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
  • Media pendidikan/pembelajaran yang penggunaannya secara individual
  • Media pendidikan/pembelajaran yang penggunaannya secara kelompok (baik kelompok kecil maupun kelompok besar)
  • Media pendidikan/pembelajaran yang penggunaannya secara massal (Degeng, dkk.,1993).

Contoh media pembelajaran yang penggunaannya secara individual adalah modul pembelajaran, buku pengajaran terprogram, mesin pengajaran, pembelajaran mandiri berbasis komputer, dan lain-lain. Media yang penggunaannya secara kelompok kecil maupun besar, misalnya slide bersuara, cassette tape recorder, video, dan lain 
sebagainya. 
Media pembelajaran yangpenggunaannya secara massal, misalnya televisi dan radio.

b. Dilihat dari Cara Penggunaannya
Berdasarkan cara penggunaannya media pembelajaran dibedakan menjadi dua, yakni:
  1. Media yang penggunaannya secara konvensional, dimana setiap guru secara individualmemegang peranan penting dalam proses pembelajaran. Media ini meliputi semua mediapembelajaran dan sumber belajar yang bisa digunakan oleh guru dalam mengajar di kelas,laboratorium, atau di luar kelas, baik dalam kelompok kecil maupun kelompok besar(Setyosari dan Sihkabuden, 2005). Contoh: sketsa rantai makanan yang digambar guru dipapan tulis, peta Indonesia yang digunakan oleh guru untuk menjelaskan letak propinsi￾propinsi di Indonesia.
  2. Media yang penggunaannya secara modern meliputi:
  • Ruang kelas otomatisRuang kelas otomatis yaitu ruang kelas yang fungsinya dapat diubah-ubah secaraotomatis (guru tinggal menekan tombol tertentu). Perubahan ini misalnya perubahan dari kelas besar untuk ceramah menjadi kelas kecil untuk diskusi, untuk ruangan proyeksi, untuk laboratorium, dan lain sebagainya. Perubahan fungsi kelas dilakukan sesuai dengantujuan pengajaran dan keperluan pebelajar waktu itu.
  • Sistem proyeksi berganda (Multiprojection system) Suatu sistem ruang proyeksi melengkapi ruang kelas otomatis. Sistem ini diciptakanuntuk memungkinkan proyeksi bahan-bahan pembelajaran melalui berbagai proyektorsecara terkoordinasi. Saat ini sudah banyak ruang-ruang kelas, ruang kuliah, ruang rapat, dan ruang seminar yang dilengkapi dengan sistem proyeksi berganda.
  • Sistem interkomunikasiSistem ini dibuat dalam rangka pengajaran secara massal, dimana program pembelajarandisiarkan melalui televisi. Sistem ini digunakan untuk beberapa kelas dalam suatulembaga pendidikan atau untuk beberapa lembaga pendidikan. Pemeliharaan interaksi dan partisipasi pebelajar dilakukan dengan penyediaan media interkomunikasi.

SIMPULAN
Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Media pembelajaran dapat menghasilkan proses pembelajaran yang efektif yang dimana menghasilkan proses komunikasi yang berlangsung dalam suatu sistem, maka media pembelajaran menempati posisi yang cukup penting sebagai salah satu komponen sistem pembelajaran. Tanpa media, komunikasi tidak akan terjadi dan proses pembelajaran sebagai proses komunikasi juga tidak akan bisa berlangsung secara optimal. Adapun hambatan-hambatan komunikasi dalam proses pembelajaran yaitu Verbalisme, Salah tafsir, Perhatian tidak berpusat, dan Tidak terjadinya pemahaman.

Media Pembelajaran dalam proses pembelajaran memiliki fungsi sebagai pembawa informasi dari sumber (guru) menuju penerima (siswa). Dalam kegiatan interaksi antara siswa dengan lingkungan, fungsi media dapat diketahui berdasarkan adanya kelebihan media dan hambatan yang mungkin timbul dalam proses pembelajaran.Tiga kelebihan kemampuan media yakni Kemapuan fiksatif, Kemampuan manipulative, dan Kemampuan distributive.

Berdasarkan persepsi indera, media diklasifikasikan menjadi tiga kelas, yakni media audio, media visual, dan media audio visual. Media audio adalah media yang hanya mengandalkan suara saja, seperti radio, cassette recorder, piringan hitam.Media visual adalah media yang hanya mengandalkan indera penglihatan. Media audio visual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Klasifikasi media berdasarkan penggunaannya dapat dilihat dari sasaran penggunanya dan carapenggunaannya. Berdasarkan sasaran yang menggunakannya, media dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: media pendidikan/pembelajaran yang penggunaannya secara individual, media pendidikan/pembelajaran
yang penggunaannya secara kelompok (baik kelompok kecil maupun kelompok besar), dan media pendidikan/pembelajaran yang penggunaannya secara massal.

SARAN
Diharapkan bagi pendidik maupun calon pendidik agar bisa menjalankan tanggung jawabnya dengan baik dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajaran dengan penggunaan media pembelajaran yang tidak terlepas dari pemahaman terhadap ragam dan karakteristik media tersebut, karena setiap jenis media pembelajaran memiliki kekhasan tersendiri untuk dapat diterapkan dan digunakan dalam pembelajaran. Hal ini perlu dijadikan bagian kemampuan dan keterampilan pendidik sesuai dengan kompetensi yang harus dimiliki untuk menjadi guruprofesional. Pendidik yang profesional dituntut untuk mampu memilih dan menggunakan berbagai jenis media pembelajaran karena proses pembelajaran bergantung pada pembuatan perencanaan pembelajaran, penerapan rencana pembelajaran, dan evaluasi yang akan dilakukan pendidik setelah pembelajaran selesai. Pendidik yang kreatif dan inovatif akan selalu didamba kehadirannya oleh siswa-siswi, karena selalu hadir dengan suasana kelas yang baru, penuh inovasi, dan kreativitas. Oleh karena itu dengan adanya kewajiban pendidik dalam merancang dan menjalankan pembelajaran diharapkan pendidik maupun peserta didik dapat menerapkan media pembelajaran yang beragam dan tepat sehingga dapat menciptakan suasana kelas yang terlihat lebih hidup banding kelas dengan guru yang tidak memakai media apapun. 

REFERENSI

Dasna, I Wayan. Modul I Hakikat Pembelajaran Inovatif dan Interaktif
Santyasa, I wayan.2007. Landasan Konseptual Media Pembelajaran. Banjar:UPG
Riana,Cepi. Komputer dan Media Pendidikan di sekolah Dasar. Unit 5 Media Pembelajaran
Rusydiyah, Evi Fatimatur. MEDIA PEMBELAJARAN (Implementasi Untuk Anak di Madrasah Ibtidaiyah) . Surabaya: digital.uinsby.ac.id

Minggu, 03 Maret 2019

Model Pembelajaran "ARIAS" Dan "Group Investigation" Pada Materi Akuntansi Jurnal Penyesuaian





DISUSUN OLEH :

Yenita Sihaloho                                  (7173142035)
                                    Sri Wulandari                                      (7173342050)
                                    Yan Danie Siahaan                             (7173142034)




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI KELAS B
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2018

BAB I


PENDAHULUAN


 

1.1  Latar Belakang

Model pembelajaran ialah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas. Model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Maka model pembelajaran adalah suatu konsep atau rancangan pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru secara sistematis untuk mengorganisasikan pengalaman belajar guna mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan atau diharapkan. Ada banyak model pembelajaran yang perlu kita pahami dan pelajari, diantaranya yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu model pembelajaran ARIAS dan Group Learning.

1.2 Tujuan Penulisan

2.      Menjelaskan langkah-langkah penerapan model pembelajaran ARIAS dan Group Learning
3.      Menjelaskan kelebihan dan kekurangan model pembelajaran ARIAS dan Group Learning
4.      Menjelaskan materi yang menjadi bahan ajar dalam praktek dan presentasi

1.3 Manfaat Penulisan


1.      Mengetahui apa pengertian model pembelajaran ARIAS dan Group Learning
2.      Memahami bagaimana langkah-langkah penerapan model pembelajaran ARIAS dan Group Learning
3.      Mengetahui apa kelebihan dan kekurangan model pembelajaran ARIAS dan Group Learning
4.      Memahami bagaimana materi yang menjadi bahan ajar dalam praktek dan presentasi

BAB II

PEMBAHASAN


Pada kesempatan ini kami akan menerapkan model pembelajaran ARIAS Dan Group Investigation, sebelum melakukannya kita perlu memahami lebih jelas apa model pembelajaran yang akan kita terapkan, berikut penjelasannya.

A.    Model Pembelajaran ARIAS

a.      Pengertian

Model pembelajaran Assurance, Relevance, Interest, Assessment dan Satisfaction (ARIAS) merupakan sebuah model pembelajaran yang dimodifikasi dari model pembelajaran ARCS yang dikembangkan oleh John M.Keller dengan menambahkan komponen assessment pada keempat model pembelajaran tersebut. Model pembelajaran ARCS ini dikenal secara luas sebagai Keller’s ARCSModel of Motivation. Model ini dikembangkan dalam University dituliskan oleh Keller (dalam Rahman,M. &Amri Sofan, 2014: 39) Model pembelajaran ini dikembangkan berdasarkan teori nilai harapan (expectancy value theory) yang mengandung dua komponen, yaitu nilai (value) dari tujuan yang ingin dicapai dan harapan (expectancy) agar berhasil mencapai tujuan itu. Dari dua komponen tersebut, lalu dikembangkan menjadi empat komponen model pembelajaran, yaitu Attention, Relevance, Confidence dan Satisfaction (ARCS). Namun, model pembelajaran ini belum terdapat assessment, yang kita ketahui bahwa assessment merupakan penilaian yang tidak hanya dapat dilakukan pada akhir pembelajaran, namun juga dapat dilakukan pada proses pembelajaran. Assessment yang dilaksanakan selama proses pembelajaran dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Mengingat pentingnya assessment, maka model pembelajaran ini dimodifikasi dengan menambahkan komponen assessmen.
Menurut Kiranawati (2012) modifikasi model pembelajaran yang digunakan mengandung lima komponen, yaitu attention (minat), relevance (relevansi), confidence (percaya diri), satisfaction (kepuasan), dan assessment (penilaian). Modifikasi juga dilakukan dengan penggantian nama confidence menjadi assurance, dan attention menjadi interest. Pergantian nama confidence (percaya diri) menjadi assurancekarena kata assurancesinonim degan kata self-confidence. Hal ini dimaksudkan agar dalam kegiatan pembelajaran guru tidak hanya percaya bahwa siswa akan mampu dan berhasil, melainkan juga sangat penting menanamkan rasa percaya diri siswa bahwa mereka merasa mampu dan dapat berhasil.
Menurut Sopah (dalam Rahman, M. dan Amri Sofan, 2014: 13) untuk memperoleh akronim yang lebih baik dan bermakna, maka urutannya pun dimodifikasi menjadi Assurance, Relevance, Interest, Assessment dan Satisfaction. Makna dari modifikasi ini adalah usaha pertama dalam kegiatan pembelajaran yaitu untuk menanamkan rasa yakin atau percaya pada siswa. Kegiatan pembelajaran ada relevansinya dengan kehidupan siswa, berusaha menarik dan memelihara minat atau perhatian siswa. Kemudian diadakan evaluasi dan menumbuhkan rasa bangga pada siswa dengan memberikan penguatan (Reinforcement). Dengan mengambil huruf awal dari masing-masing komponen menghasilkan kata ARIAS sebagai akronim. Oleh karena itu model pembelajaran yang sudah dimodifikasi ini disebut model pembelajaran ARIAS.
Menurut Webb (dalam Rahman, M. dan Amri Sofan, 2014: 282) bahwa pembelajaran ARIAS mengembangkan keterampilan berpikir ke tingkat yang lebih tinggi. Selain itu, penggunaan berbagai media inovatif dalam model pembelajaran ARIAS dimaksudkan untuk menunjang aspek minat dan kesenangan siswa. kolaborasi antara strategi, metode dan media pembelajaran inilah yang membuat penerapan pembelajaran ARIAS di kelas menjadi sebuah pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, menyenangkan serta memuaskan siswa.

Menurut beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Assurance, Relevance, Interest, Assessment, dan Satisfaction (ARIAS) merupakan sebuah model pembelajaran hasil perkembangan dari model pembelajaran Attention, Relevance, Confidence dan Satisfaction (ARCS). Perkembangan model pembelajaran tersebut dimaksudkan untuk melengkapi model pembelajaran dengan penilaian yang dapat memudahkan siswa mengetahui hasil dari kegiatan pembelajaran yang telah mereka lakukan. Model pembelajaran ARIAS juga dapat menumbuhkan minat siswa dalam mengikuti pembelajaran karena dalam proses pembelajaran guru dapat mengintegrasikan model ini dengan strategi pembelajaran lain.

b.      Langkah-langkah

1.      Langkah-langkah pembelajaran model pembelajaran ARIAS tergambar pada pengertian dari kelima komponen ARIAS menurut Fajaroh dan Dasna (dalam Rahman, M. dan Amri Sofan, 2014: 13), yaitu:
-          Tahap assurance
Membantu siswa menentukan kekuatan dan kelemahan diri serta menanamkan pada siswa gambaran diri positif terhadap diri sendiri. Hal ini dapat dilakukan dengan menampilkan video ataupun gambar seseorang yang telah berhasil. Dengan adanya ini, maka siswa akan bisa menanamkan gambaran positif terhadap diri sendiri.
-          Tahap relevance
a.       Guru menggunakan bahasa yang jelas atau contoh-contoh yang ada hubungannya dengan pengalaman nyata atau nilai-nilai yang dimiliki siswa.
b.      Pengalaman nyata dapat menjembatani siswa ke hal-hal yang baru.
-          Tahap interest
a.      Siswa diberikan kesempatan oleh guru untuk berpartisipasi secara aktif dalam pembelajaran, misalnya siswa diajak berdiskusi untuk memilih topik yang akan dibicarakan, mengajukan pertanyaan atau mengemukakan masalah yang perlu dipecahkan.
b.      Guru juga dapat mengadapat variasi dalam kegiatan pembelajaran, misalnya variasi dari serius ke humor, dari cepat ke lambat, dari suara keras ke suara yang sedang, dan mengubah gaya mengajar.


c.       Tahap assessment
Guru mengadakan evaluasi dan memberikan umpan balik terhadap kinerja siswa, memberikan evaluasi yang objektif dan adil serta segera menginformasikan hasil evaluasi kepada siswa.
d.      Tahap satisfaction
Guru memberikan reinforcement atau penguatan, penghargaan yang pantas baik secara verbal maupun nonverbal kepada siswa yang telah menampilkan keberhasilannya.

2.      Sedangkan langkah-langkah pembelajaran assurance, relevance, interest, assessment dan satisfaction menurut Firdaus (2012) adalah sebagai berikut:
-          Yang pertama dilakukan oleh seorang guru adalah menumbuhkan rasa percaya diri (assurance) para siswa, meyakinkan para siswa bahwa setiap diri mereka mempunyai potensi untuk dapat mengerjakan segala sesuatu asalkan mereka mau berlatih dan belajar dengan sungguh-sungguh.
-          Menyampaikan tujuan dan manfaat dari apa yang akan mereka pelajari, berhubungan dengan relavance dalam ARIAS.
-          Menumbuhkan minat dan perhatian (interest) para siswa terhadap pelajaran yang disampaikan. Menyampaikan pelajaran dengan cara yang menarik agar siswa tidak merasa jenuh.
-          Melakukan evaluasi (assessment) terhadap siswa, untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap pelajaran yang telah disampaikan.
-          Menumbuhkan rasa bangga dan puas terhadap hasil yang telah dicapai (satisfaction).

a.      Kelebihan dan Kekurangan

-          Menurut Adiartanti (2011) menyatakan bahwa kelebihan model pembelajaran ARIAS adalah:
1.      Siswa merasa kegiatan pembelajaran yang mereka ikuti memiliki nilai bermanfaat dan berguna bagi kehidupan mereka
2.      Siswa akan terdorong mempelajari sesuatu yang akan dipelajari dan memiliki tujuan yang jelas
3.      Sesuatu yang memiliki arah tujuan, dan sasaran yang jelas serta ada manfaat mendorong individu untuk mencapai tujuan tersebut.
-          Sementara itu, model pembelajaran ARIAS juga memiliki kekurangan, diataranya:
1.      Untuk siswa yang kurang pintar akan susah mengikuti
2.      Siswa terkadang susah untuk mengingat
3.      Siswa yang malas susah untuk belajar mandiri.



B.     Group Investigation

a.      Pengertian

Menurut Huda (2011: 16) Group Investigation diklasifikasikan sebagai metode investigasi kelompok karena tugas-tugas yang diberikan sangat beragam, mendorong siswa untuk mengumpulkan dan mengevaluasi informasi dari beragam sumber, komunikasinya bersifat bilateral. Sedangkan Sharan dan Sharan (Huda 2013: 292) Group Investigation merupakan salah satu tipe kompleks dalam pembelajaran kelompok yang mengharuskan siswa untuk menggunakan skill berpikir level tinggi. Nurhadi, dkk (Wena, 2009: 196) mengungkapkan Group Investigatin merupakan salah satu bentuk tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia.

Berdasarkan pendapat beberapa ahli, maka dapat disimpulkan bahwa model cooperative learning tipe group investigation merupakan model pembelajaran kooperatif yang melibatkan siswa secara maksimal dalam kegiatan pembelajaran dan menekankan pada partisipasi serta aktivitas siswa untuk mencari sendiri informasi pelajaran yang akan dipelajari melalui berbagai sumber.

b.      Langkah-Langkah

Langkah-langkah menggunakan metode Group Investigation
1.      Menurut Sharan (Trianto 2009: 80) membagi langkah-langkah model investigasi kelompok menjadi 6 fase, yaitu:
-          Memilih topik/pengelompokan 
Siswa dibentuk kelompok secara heterogen sesuai dengan topik yang telah ditentukan.
-          Perencanaan cooperative
Siswa dan guru merencanakan prosedur pembelajaran.
-          Implementasi
Siswa menerapkan rencana yang telah kembangkan dengan aktivitas dan ketrampilan yang luas.
-          Analisis dan sintesis
Siswa menganalisis dan mensintesis informasi yang diperoleh kemudian diringkas dan disajikan secara menarik sebagai bahan untuk presentasi.
-          Presentasi hasil
Setiap kelompok menyajikan hasil penyelidikan.
-          Evaluasi
Siswa dan guru mengevaluasi pembelajaran yang telah dipelajari.

2.      Menurut Slavin (2010: 218) telah menetapkan enam langkah seperti berikut ini :
-          Pengelompokan (Grouping)/ Pemilihan topik
Pada tahap ini, siswa memilih topik dan menentukan kelompok.
-          Perencanaan kooperatif (Planning)
Pada tahap ini siswa merencanakan topik yang akan diselidiki.
-          Tahap Penyelidikan (Investigation)/ Implementasi
Pada tahap ini, siswa mengumpulkan informasi, menganalisis data dan membuat simpulan terkait dengan permasalahan-permasalahan yang diselidiki.
-          Tahap Pengorganisasian (Organizing)/ Analisis dan sintesis
Pada tahap ini, anggota kelompok merencanakan apa yang akan mereka laporkan dan bagaimana mempresentasikannya.
-          Tahap Presentasi hasil final (Presenting)
Pada tahap ini setiap kelompok mempresentasikan hasil penyelidikannya.
-          Tahap Evaluasi (Evaluating)
Kegiatan guru dan siswa Guru dan siswa mengkolaborasi, mengevaluasi tentang pembelajaran yang telah dilaksanakan.

c.       Kelebihan dan Kelemahan

Model Group Investigation juga mempunyai berbagai kelebihan dan kelemahan.
1.      Slavin (2010: 165) mengemukakan bahwa kelebihan group investigation yakni:
-          Mampu melatih siswa untuk berpikir tingkat tinggi
-          Melatih siswa menumbuhkan kemampuan berpikir mandiri
-          Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran
Sedangkan kelemahan group investigation yakni:
-          Memerlukan investigasi yang mempersyaratkan siswa bekerja secara berkelompok
-          Memerlukan pendampingan guru secara penuh.

2.      Setiawan (2006: 9) mendeskripsikan kelebihan group investigation yakni:
-          Memberi semangat untuk berinisiatif, kreatif, dan aktif
-          Dapat belajar untuk memecahkan, menangani suatu masalah
-          Meningkatkan belajar bekerja sama
-          Belajar berkomunikasi yang baik secara sistematis
-          Meningkatkan partisipasi dalam membuat suatu keputusan
-          Selalu berpikir tentang cara atau strategi yang digunaka sehingga didapat suatu kesimpulan yang berlaku umum.
Sedangkan kekurangannya, yakni:
-          Sedikitnya materi yang tersampaikan pada satu kali pertemuan
-          Pembelajaran group investigation cocok diterapkan pada suatu topik yang menuntut siswa untuk memecahkan masalah
-          Diskusi kelompok biasanya berjalan kurang efektif
-          Siswa yang tidak tuntas memahami materi prasyarat akan mengalami kesulitan saat menggunakan model ini.

BAB IV

PENUTUP



4.1 Kesimpulan


Model pembelajaran ARIAS adalah sebuah model pembelajaran hasil perkembangan dari model pembelajaran Attention, Relevance, Confidence dan Satisfaction (ARCS). Perkembangan model pembelajaran tersebut dimaksudkan untuk melengkapi model pembelajaran dengan penilaian yang dapat memudahkan siswa mengetahui hasil daripada kegiatan pembelajaran yang telah mereka lakukan. Dengan demikian, yang dimaksud dengan model pembelajaran Assurance, Relevance, Interest, Assessment, dan Satisfaction (ARIAS) adalah suatu kegiatan pembelajaran untuk menumbuhkan rasa yakin atau percaya pada diri siswa, merelevansikan materi ajar dengan kehidupan siswa, berusaha menarik dan memelihara minat dan perhatian siswa. Kemudian dilakukan evaluasi dan menumbuhkan rasa bangga dan kepuasan pada siswa dengan memberikan penguatan.
Group investigation merupakan model pembelajaran kooperatif yang melibatkan siswa secara maksimal dalam kegiatan pembelajaran dan menekankan pada partisipasi serta aktivitas siswa untuk mencari sendiri informasi pelajaran yang akan dipelajari melalui berbagai sumber. Langkah-langkah model group investigatioan yaitu pengelompokan, perencanaan, penyelidikan, pengorganisasian, presentasi dan evaluasi. Kelebihan menggunakan model Group Investigation dalam pembelajaran dapat memberi semangat untuk berinisiatif, kreatif dan aktif. Group Investigation juga memiliki kelemahan yaitu diskusi kelompok biasanya berjalan kurang efektif.

4.2 Saran

Sebagai pendidik sudah seharusnya untuk memahami macam-macam model ataupun metode pembelajaran. Untuk pendidik diharapkan untuk memahami dan menerapkan model pembelajaran yang akan diterapkan dalam setiap pengajaran yang akan dilakukan. Mulai dari langkah-langkah, bahkan harus mempertimbangkan kelebihan serta kekurangan dari setiap model pembelajaran, agar pembelajaran dapat berjalan dan terlaksanakan secara efektif dan lebih baik lagi. Sehingga menjadikan suasana kelas lebih kondusif dan peserta didik menjadi senang dan paham akan apa yang pendidik sampaikan.





LAMPIRAN



A.    Jurnal Penyesuaian

a.      Pengertian

Jurnal penyesuaian adalah jurnal yang dibuat dalam proses pencatatan perubahan saldo dalam akun sehingga saldo mencerminkan jumlah yang sebenarnya. Secara umum, fungsi jurnal penyesuaian adalah menetapkan saldo catatan akun buku besar pada akhir periode, serta menghitung pendapatan dan beban selama periode yang bersangkutan. Di bawah ini, kita akan jelaskan beberapa hal mengenai jurnal penyesuaian dan bagaimana cara pencatatannya.

b.      Akun Yang Memerlukan Penyesuaian Di Akhir Periode

1.      Akun perlengkapan, yang memerlukan penyesuaian karena ada pemakaian.
2.      Akun beban dibayar di muka, yang memerlukan penyesuaian karena waktu telah dijalani/jatuh tempo.
3.      Akun aktiva tetap, yang memerlukan penyesuaian karena ada penyusutan aktiva.
4.      Akun pendapatan, yaitu memerlukan penyesuaian karena ada pendapatan yang belum diperhitungkan atau penerimaan yang belum menjadi pendapatan.
5.      Akun beban, yang memerlukan penyesuaian karena ada beban yang belum diperhitungkan atau pembayaran yang belum menjadi beban.
6.      Akun pendapatan diterima di muka, yang memerlukan penyesuaian karena berjalannya waktu atau diserahkannya prestasi pada pelanggan.

c.       Pendekatan Jurnal Penyesuaian

Jurnal penyesuaian adalah jurnal yang dibuat pada akhir periode akuntansi untuk menyesuaikan saldo akun agar sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. jurnal penyesuaian dapat dibuat dengan dua pendekatan yaitu pendekatan neraca dan pendekatan laba rugi.
1.      Pendekatan Neraca
Jurnal penyesuaian akan dibuat dengan pendekatan neraca jika transaksi sebelumnya dicatat dalam akun riil (harta, utang, dan modal). saldo yang disesuaikan yaitu sebesar nominal yang sudah terealisasi.
Contoh:
Saldo akun 'Sewa Dibayar Dimuka' PT Nufa pada akhir periode sebelum penyesuaian menunjukkan saldo Rp12.000.000,- sedangkan sewa yang menjadi beban pada periode itu sebesar Rp2.000.000,-
Jurnal Penyesuaian:
(D) Beban Sewa Rp2.000.000,-
(K) Sewa Dibayar Dimuka Rp2.000.000,-
2.      Pendekatan Laba/Rugi
Jurnal penyesuaian akan dibuat dengan pendekatan laba/rugi jika transaksi sebelumnya dicatat dalam akun nominal ( pendapatan dan beban). saldo yang disesuaikan yaitu sebesar nominal yang belum terealisasi.
Contoh:
Saldo akun 'Beban Sewa' PT Nufa pada akhir periode sebelum penyesuaian menunjukkan saldo Rp12.000.000,- sedangkan sewa yang menjadi beban pada periode itu sebesar Rp2.000.000,-
Jurnal Penyesuaian:
(D) Sewa Dibayar Dimuka Rp10.000.000,-
(K) Beban Sewa Rp10.000.000,-






Contoh penulisan jurnal penyesuaian
1.      Akun perlengkapan menunjukkan saldo sementara Rp500.000. Sedangkan data akhir periode menunjukkan saldo masih ada senilai Rp200.000.
Analisis:
Akun perlengkapan (saldonya di sisi debit).
Maka dihitung jumlah yang habis terpakai di sisi debit beban, yaitu Rp500.000 – Rp200.000 = Rp300.000. Kemudian, catatlah akun beban perlengkapan Rp300.000 di sisi debit dan kurangi jumlah akun perlengkapan sejumlah Rp300.000 seterusnya dicatat di sisi kredit. Jurnal penyesuaiannya adalah:

Tanggal
Keterangan
Ref
Debit
Kredit
2017
Desember
Beban perlengkapan

Rp300.000

             Perlengkapan


Rp300.000
2.       Akun asuransi dibayar di muka menunjukkan saldo sementara Rp360.000.
Data akhir periode: jumlah asuransi yang telah jatuh tempo adalah Rp120.000 yaitu untuk 4 bulan. 
Analisis:
Akun asuransi dibayar di muka (saldonya di sisi debit), dicatat sebagai harta. Yang dicatat untuk penyesuaian adalah berapa jumlahnya yang sudah menjadi beban (yaitu sejumlah yang sudah jatuh tempo/sudah dijalani).
Beban asuransi sebesar Rp120.000 di sisi debit. Kemudian pada akun asuransi dibayar di muka Rp120.000 dicatat di sisi kredit. Jurnal penyesuaiannya adalah:
Tanggal
Keterangan
Ref
Debit
Kredit
2017
Desember
Beban asuransi

Rp120.000

     Asuransi di bayar di muka


Rp120.000
3.      Akun peralatan menunjukkan saldo Rp3.000.000. Pada akhir periode: peralatan disusutkan 10%.
            Analisis:
Akun peralatan (saldo di sisi debit). Penyusutan peralatan 10% x Rp3.000.000 = Rp300.000 dicatat sebagai beban penyusutan peralatan, di sisi debit. Kemudian dalam akun akumulasi penyusutan peralatan di catat Rp300.000 di sisi kredit untuk menampung setiap penyusutan peralatan setiap tahunnya. Jurnal penyesuaiannya adalah: 
Tanggal
Keterangan
Ref
Debit
Kredit
2017
desember
Beban penyusutan peralatan

Rp300.000

       Akumulasi penyusutan peralatan


Rp300.000

4.      Akun pendapatan jasa menunjukkan jumlah Rp1.800.000. Data akhir periode dari pendapatan tersebut sebesar Rp200.000 layanan kepada langganan belum dikerjakan.
Analisis:
Akun pendapatan jasa (saldo di sisi kredit). Jumlah pendapatan yang belum menjadi pendapatan adalah Rp200.000 karena pekerjaan/layanan kepada langganan belum dikerjakan. Jadi kurangkan akun pendapatan jasa Rp200.000 dan dicatat di sisi debit. Kemudian catatlah ke dalam akun pendapatan diterima di muka Rp200.000 di sisi kredit karena dianggap sebagai utang. Jurnal penyesuaiannya adalah:
Tanggal
Keterangan
Ref
Debit
Kredit
2017
desember
Pendapatan jasa

Rp200.000

         Pendapatan diterima di muka


Rp200.000

Karena pentingnya pencatatan jurnal penyesuaian untuk melengkapi laporan akun pada buku besar, maka tidak ada salahnya jika perusahaan mempercayakan Jurnal software akuntansi  online untuk membantu pencatatannya, terutama jika banyak sekali transaksi maupun akun yang harus disesuaikan. Daftarkan perusahaan Anda pada Jurnal software akuntansi online sekarang dan dapatkan free trial 14 hari dengan klik di sini.
























DAFTAR PUSTAKA


Gurning, Busmin & Effi A. Lubis. 2017. STRATEGI BELAJAR MENGAJAR. Yogyakarta: K-Media
http://proposalmatematika23.blogspot.in/2013/08/model-pembelajaran-arias-assurance.html?m=1
University dituliskan oleh Keller (dalam Rahman,M. &Amri Sofan, 2014: 39)
Kiranawati (2012) modofikasi model pembelajaran
Sopah (dalam Rahman, M. dan Amri Sofan, 2014: 13
Webb (dalam Rahman, M. dan Amri Sofan, 2014: 282)
Fajaroh dan Dasna (dalam Rahman, M. dan Amri Sofan, 2014: 13)
Firdaus (2012)
Adiartanti (2011) menyatakan bahwa kelebihan dan kelamaha model
Huda (2011: 16) Group Investigation diklasifikasikan
Sharan (Trianto 2009: 80) membagi langkah-langkah model
Slavin (2010: 218) telah menetapkan enam langkah
Slavin (2010: 165) mengemukakan bahwa kelebihan dan kekurangan Group Investigation
Setiawan (2006: 9) mendeskripsikan kelebihan dan kekurangan group investgation